Menanggapi derasnya arus digitalisasi dan perubahan perilaku generasi muda, Perguruan Daarul Uluum PUI Majalengka menggelar program strategis In House Training (IHT) pada 3-4 Januari 2026.
Agenda ini bertujuan memperkuat kapasitas serta kualitas tenaga pendidik dan kependidikan agar tetap relevan di tengah transformasi dunia pendidikan yang kian cepat.
Acara ini menghadirkan jajaran pakar dan praktisi lintas disiplin, mulai dari profesor hingga peneliti. Di antaranya adalah Dr. KH. Wido Supraha, M.Si., Muhammad Rizal (Kandidat Doktor), serta Dr. Manpan Drajat, M.Ag.
Kehadiran para tokoh ini memberikan perspektif baru tentang bagaimana nilai-nilai Al-Qur'an harus menjadi landasan utama dalam mengintegrasikan ilmu pengetahuan umum dan teknologi di era modern.
Integrasi Ilmu Al-Qur'an di Era Revolusi 4.0
Dalam paparannya, Dr. KH. Wido Supraha menekankan bahwa seorang pendidik wajib menguasai disiplin ilmu secara mendalam sebelum menyampaikannya kepada murid.
Di era Revolusi Industri 4.0 yang berbasis Internet of Things (IoT), Al-Qur'an harus diposisikan sebagai sumber ilmu pengetahuan universal yang mencakup aspek aqidah, akhlak, hingga landasan sains seperti matematika, fisika, dan kimia.
Menurut kemanfaatannya, ilmu menjadi dua jenis: ilmu nafi’ (bermanfaat dan diamalkan) serta ilmu ghairu nafi’ (tidak bermanfaat karena tidak diiringi amal).
Di hadapan siswa, guru harus memposisikan sebagai sosok teladan yang rendah hati.
Guru yang berwibawa adalah mereka yang terus belajar dan tidak segan meminta maaf jika melakukan kesalahan, demi menjaga integritas di mata generasi digital.
Navigasi Etika di Tengah Dominasi AI dan Media Sosial
Pendidikan masa kini dihadapkan pada tantangan besar berupa kehadiran Artificial Intelligence (AI) yang berperan sebagai "asisten serba tahu".
Jika guru tidak melakukan digitalisasi diri, mereka berisiko kehilangan relevansi karena murid memiliki akses informasi yang jauh lebih cepat. Selain itu, peran guru kini bergeser menjadi navigator moral untuk menyaring dampak negatif media sosial dan game online kompetitif yang sering kali memicu emosi tidak stabil serta egoisme pada anak.
Lebih jauh, guru dituntut memahami karakteristik psikologis Gen Z dan Alpha yang cenderung memiliki ketahanan mental lebih rapuh dibandingkan generasi terdahulu.
Fenomena "sumbu pendek" dan ketidaksabaran ini sering kali disebabkan oleh paparan konten instan yang membuat daya fokus mereka menurun.
Di sinilah peran guru sebagai penyaring etika menjadi krusial, memastikan murid tidak sekadar menyerap informasi, tetapi juga memiliki filter karakter yang kuat.
Penerapan Pembelajaran Adaptif dan Rumus Fokus
Menghadapi tantangan tersebut, IHT ini mendorong penerapan pembelajaran adaptif yang berpusat pada siswa (Student Center).
Pendidik diingatkan bahwa kapasitas perhatian manusia memiliki batas biologis.
Melalui rumus durasi fokus : (Usia saat ini * 2) + 1 menit.
contoh (anak usia 7 tahun * 2) + 1 = 15 menit
Guru diajak menyadari bahwa metode ceramah panjang sudah tidak efektif.
Jika seorang murid berusia 7 tahun hanya mampu fokus selama 15 menit, maka guru harus kreatif menyajikan variasi aktivitas audio, visual, maupun kinestetik agar kelas tetap kondusif.
Keberhasilan mengajar pun kini diukur secara lebih realistis.
Dengan kondisi mentalitas siswa yang beragam, pencapaian target rata-rata sebesar 66% sudah dianggap sebagai langkah maju yang signifikan.
Guru yang baik adalah mereka yang peka terhadap dinamika kelas dan mampu menyesuaikan metode pengajaran dengan kebutuhan unik setiap anak, bukan lagi memaksakan standar kaku yang seragam.
Investasi SDM demi Masa Depan Bangsa
Sebagai penutup, muncul harapan besar agar pemerintah terus memprioritaskan sektor pendidikan dan kesehatan sebagai pilar utama kemajuan bangsa.
Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul hanya bisa dicapai jika para pendidik di Indonesia memiliki semangat untuk terus membaca dan memperbarui kapasitas diri setiap hari.
Dengan menciptakan ekosistem pendidikan yang cerdas dan transparan, bangsa ini tidak perlu takut akan persaingan global atau banyaknya "orang pintar" di dalam negeri.
Sebab, hanya mereka yang bersalah dan menutup dirilah yang merasa terancam oleh kemajuan ilmu pengetahuan.
Sinergi antara guru yang adaptif dan kebijakan pemerintah yang tepat adalah kunci utama membawa Indonesia keluar dari tantangan zaman yang kian kompleks.

Post a Comment
🚫 PERHATIAN ! 🚫
Dimohon untuk TIDAK berkomentar yang mengandung hinaan, caci maki, memperdebatkan hal yang tidak penting, dan promosi barang/hal yang dilarang oleh hukum agama dan hukum negara!